Sulit
rasanya kita melihat dan menemukan produk-produk yang beredar dipasar adalah
buatan asli Indonesia atau yang tertera pada label “Made in Indonesia”. Bahkan produk yang sehari-hari kita gunakan
seperti Hand Phone, Laptop, kendaraan, pena, pensil dan lain – lain adalah buatan
negara asing seperti Jerman, China dan Jepang. bahkan yang sangat miris adalah beras yang
menjadi kebutuhan pokok kita sehari-hari pemerintah masih “menumpang” dari
negara tetangga. Apakah kita sebagai
anak bangsa tidak mampu berkarya dan melahirkan ide-de serta produk yang mampu
bersaing dengan bangsa lain. Atau memang kita sebagai anak bangsa miskin akan
gagasan dan karya sehingga terus bergantung dan tergerus dengan negara lain ?.
Bangsa
yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai karya anak bangsanya sendiri, yang
bisa menghargai keringat dan ide-ide kreatif rakyatnya bukan justru dengan
dalih persaingan, perdagangan bebas, tuntutan pihak luar sehingga mengakibatkan
matinya karya anak bangsa. Menghargai dan mengapresiasi sebuah karya tidak
begitu saja datang butuh proses dan sistem yang kuat untuk mendukung karya
anak-anak bangsa.
Kalau
mau jujur kita bangsa Indonesia memiliki Sumber Daya Alam yang luar biasa,
seperti pertambangan, perkebunan, bahkan hasil laut yang melimpah ruah. Dengan
Sumber Daya Alam yang kita miliki hampir dipastikan semua produk bisa kita buat,
dengan catatan kita memiliki Sumber Daya Manusia yang mumpuni. PR besar bangsa Indonesia hari ini
adalah bagaimana meningkatkan SDM yang unggul dan kompetitif dalam peningkatan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Bicara Sumber Daya Manusia maka proses
Pendidikan merupakan tonggak yang sangat fundamental untuk menciptakan SDM yang
berkualitas. Pendidikan kita sekarang masih diselimuti banyak masalah, dari
minimnya sarana prasarana, minimnya jumlah guru baik kualitas maupun kuantitas,
tidak adanya pemerataan pendidikan dan masih banyak masalah yang harus segera
diselesaikan jika tidak ingin kita sebagai bangsa yang besar ini hanya menjadi
“budak” dalam negaranya sendiri.
Jika
diperhatikan masalah pendidikan yang paling mendasar adalah pendidikan kita
masih menghargai angka-angka atau nilai dari pada sebuah karya nyata. Sistem pendidikan
bangsa indonesia hari ini dari pendidikan dasar sampai dengan perguruan tinggi masih
berorientasi pada nilai yang berbentuk angka. Dan merupakan syarat kelulusan
seseorang dalam menempuh pendidikan secara formal yaitu berbentuk ijazah. Anak-anak
bangsa tidak lagi distimulus dan didorong untuk membuat dan memiliki sebuah karya
nyata tetapi lebih didorong untuk menghapal dan mempelajari yang bersifat
teoritis sehingga pada akhirnya anak negeri ini hanya mampu melahirkan nilai
dengan angka 6,7,8,9 bahkan ada yang mendapatkan nilai tertinggi 10. Justru hal
tersebut menjadi kebanggan yang tidak dapat dibanggakan. Yang terjadi dalam
sistem pendidikan kita adalah ketidakmampuan untuk mendorong anak-anak bangsa menciptakan
sebuah produk/ karya “made in Indonesia”. Jangan kan bersaing dalam dunia
otomotif dan teknologi lain, pensil dan kertas saja kita masih bergantung
dengan negara lain, Ironis memang.
Pemerintah
memiliki tanggung jawab yang besar dan penting dalam membenahi sistem
pendidikan kita, dalam rangka mewujudkan pendidikan yang berkualitas serta
mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Khususnya bersaing dalam dunia bisnis
yang notabene dikuasai oleh bangsa-bangsa eropa dan beberapa negara asia
seperti Jepang dan China. Untuk itu dunia pendidikan kita perlu pembenahan yang
bersifat revolusioner sehingga anak-anak tidak lagi didorong pada orientasi
nilai tetapi lebih dari itu yaitu nilai yang “nyata”. Sehingga sistem pendikan kita
mampu melahirkan generasi yang mampu menciptakan karya sendiri “made in
Indonesia”.