Sejak era Reformasi bergulir tahun 1998 tuntutan keterbukaan,
kebebasan, keadilan dalam semua aspek kehidupan termasuk politik
menjadi sorotan tajam. Bicara Politik maka akan indentik pemilu dengan berbagai
macam persoalannya termasuk masalah money politik. Dengan maraknya
isu money politik atau sering juga disebut sebagai politik uang atau politik
perut sering menjadi bahan diskusi yang menarik, bahkan menjadi perdebatan yang
sampai hari ini belum menemukan titik temu.
Untuk membuktikan apakah terjadi money politik atau tidak sangat sulit untuk
dibuktikan secara otentik, sementara isu money politik dalam setiap pemilu
terus berlangsung. Bahkan menjadi pelanggaran yang terbanyak disorot oleh media
massa, baik media cetak maupun media elektronik. Hampir setiap hari ketika
pemilu berlangsung dapat dipastikan andil masyarakat terhadap pelanggaran
khususnya money politik atau politik perut masih cukup
besar. Artinya pilihan untuk ikut terlibat dalam praktek money politik
atau politik uang atau politik perut masih menjadi sesuatu memiliki daya tarik
yang luar biasa yang terjadi tengah masyakakat kita bahkan mungkin menjadi
sebuah “keharusan”.
Pertanyaan yang mengelitik tentu kenapa
masyarakat kita masih melakukan praktek “jual beli politik dengan politik uang
atau politik perut” bahkan terjadi di semua lapisan masyarakat,
apakah pilihan tersebut merupakan pilihan yang rasional sehingga menarik untuk
dilakukan ?.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “Rasional” adalah menurut pikiran
dan pertimbangan yang logis; menurut pikiran yang sehat; cocok dengan akal.
Pilihan politik pada sikap melakukan money politik mungkin sebagian orang
adalah pilihan yang rasional karena dilakukan dengan pikiran, pertimbangan yang
sehat dan sesuai dengan tuntutan ketika itu. Menurut pandangan penulis ada
beberapa penyebab kenapa money politik dianggap sebagai pilihan rasional :
Pertama, masalah kemiskinan,
Kemiskinan adalah ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti
makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Baru-baru
ini Penelitian dari FOA cukup mengejutkan ada sekitar 19,5 Juta
pendudukIndonesia khususnya Indonesia bagian timur seperti Papua, NTT dan
Maluku mengalamikelaparan yang disebabkan oleh kemiskinan yang
dirilis 12 Juni 2015. Data dari FOA cukup bagi penulis untuk membuktikan
bahwa kemiskinan cukup menjadi ancaman yang serius bagi bangsa Indonesia bahkan
kita bisa melihat dengan “mata telanjang” tidak hanya di desa bahkan
dikota sekalipun banyak masyarakat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan makan,
pakaian, rumah, pendidikan bahkan kesehatan. Makan adalah hal yang paling pokok
dan tidak bisa ditunda demi keberlangsungan hidup. Ketika pemilu berlangsung
celah untuk melakukan money politik sangat terbuka. Bagi masyakarat dengan
kategori miskin, yang dipikirkan adalah bagaimana makan hari ini, ketika ada
yang menawarkan uang dalam jumlah 50.000,- atau 100.000,- bahkan lebih, pilihan
untuk menerima adalah pilihan yang cukup rasional untukmemenuhi kebutuhan
makan pada waktu itu dan kesempatan untuk menambah pendapatan ekonomi dengan
menjual suara kepada peserta pemilu. Tragis memang ?.
Kedua, masalah pendidikan, semua
orang pasti sepakat bahwa pendidikan sangatlah penting bagi manusia. Karena
dengan pendidikan kita bisa menjadi manusia yang unggul dan dapat bersaing
dengan bangsa bangsa lain. Dengan pendidikan kita bisa menciptakan generasi
generasi mutiara untuk masa depan bangsa. Tetapi realitanya di Indonesia,
perhatian terhadap pendidikan masih sangat minim, ironis memang. Jauh
panggang dari api mungkin kata yang paling tepat untuk menceritakan kondisi
pendidikan kita sekarang, bayangkan saja dunia pendidikan kita sekarang
cendrung komersialiasi yang mengakibatkan biaya pendidikan semakin mahal.
Seyogyanya pendidikan dapat melahirkan manusia menjadi manusia seutuhnya bukan melahirkan
“manusia robot”. Penulis bukanlah ahli pendidikan, tetapi orang – orang yang
memang perhatian dan memiliki kompetensi dalam dunia pendidikan pasti menyadari
bahwa dunia pendidikan kita sekarang mengalami “sakit”. Berbagai macam masalah
pendidikan dari mahalnya biaya pendidikan, minimnya kualitas sarana dan
prasarana, minumnya kualitas guru, dan banyak lagi segudang masalah yang
menumpuk akan terus merongrong dunia pendidikan kita. Krisis yang terjadi dalam
dunia pendidikan tentu berpengaruh terhadap cara pandang atau paradigma
masyarakat menyikapi suatu kondisi seperti halnya praktek praktek money
politik, apakah menerima atau menolak ?.
Jika masalah kemiskinan dan pendidikan tidak terselesaikan dengan cara cara
yang elegant dan visioner maka pilihan politik seperti money politik tentu
dianggap sebagaian masyarakat kita adalah pilihan yang rasional.
Pernyataan seperti kapan lagi kita bisa menjadi perhatian pemerintah kalau
bukan waktu pemilu, atau kapan lagi kita diberi kalau bukan waktu pemilu.
Karena dianggap kepedulian dan empati pemerintah terhadap rakyatnya hanya pada
waktu menjelang pemilu. Maka tidak heran akan banyak datang pahlawan pahlawan
kesiangan dan wajah wajah penolong. Tentu ini harus menjadi
perhatian bagi pemerintah jika ingin money politik tidak mau dianggap sebagai
pilihan yang rasional maka pemerintah harus serius dan jangan ada pembiaran
yang terstruktur terhadap kemiskinan dan pendidikan.
Untuk membuktikan apakah terjadi money politik atau tidak sangat sulit untuk dibuktikan secara otentik, sementara isu money politik dalam setiap pemilu terus berlangsung. Bahkan menjadi pelanggaran yang terbanyak disorot oleh media massa, baik media cetak maupun media elektronik. Hampir setiap hari ketika pemilu berlangsung dapat dipastikan andil masyarakat terhadap pelanggaran khususnya money politik atau politik perut masih cukup besar. Artinya pilihan untuk ikut terlibat dalam praktek money politik atau politik uang atau politik perut masih menjadi sesuatu memiliki daya tarik yang luar biasa yang terjadi tengah masyakakat kita bahkan mungkin menjadi sebuah “keharusan”.
Pertanyaan yang mengelitik tentu kenapa masyarakat kita masih melakukan praktek “jual beli politik dengan politik uang atau politik perut” bahkan terjadi di semua lapisan masyarakat, apakah pilihan tersebut merupakan pilihan yang rasional sehingga menarik untuk dilakukan ?.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “Rasional” adalah menurut pikiran dan pertimbangan yang logis; menurut pikiran yang sehat; cocok dengan akal. Pilihan politik pada sikap melakukan money politik mungkin sebagian orang adalah pilihan yang rasional karena dilakukan dengan pikiran, pertimbangan yang sehat dan sesuai dengan tuntutan ketika itu. Menurut pandangan penulis ada beberapa penyebab kenapa money politik dianggap sebagai pilihan rasional :
Pertama, masalah kemiskinan, Kemiskinan adalah ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Baru-baru ini Penelitian dari FOA cukup mengejutkan ada sekitar 19,5 Juta pendudukIndonesia khususnya Indonesia bagian timur seperti Papua, NTT dan Maluku mengalamikelaparan yang disebabkan oleh kemiskinan yang dirilis 12 Juni 2015. Data dari FOA cukup bagi penulis untuk membuktikan bahwa kemiskinan cukup menjadi ancaman yang serius bagi bangsa Indonesia bahkan kita bisa melihat dengan “mata telanjang” tidak hanya di desa bahkan dikota sekalipun banyak masyarakat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan makan, pakaian, rumah, pendidikan bahkan kesehatan. Makan adalah hal yang paling pokok dan tidak bisa ditunda demi keberlangsungan hidup. Ketika pemilu berlangsung celah untuk melakukan money politik sangat terbuka. Bagi masyakarat dengan kategori miskin, yang dipikirkan adalah bagaimana makan hari ini, ketika ada yang menawarkan uang dalam jumlah 50.000,- atau 100.000,- bahkan lebih, pilihan untuk menerima adalah pilihan yang cukup rasional untukmemenuhi kebutuhan makan pada waktu itu dan kesempatan untuk menambah pendapatan ekonomi dengan menjual suara kepada peserta pemilu. Tragis memang ?.
Kedua, masalah pendidikan, semua orang pasti sepakat bahwa pendidikan sangatlah penting bagi manusia. Karena dengan pendidikan kita bisa menjadi manusia yang unggul dan dapat bersaing dengan bangsa bangsa lain. Dengan pendidikan kita bisa menciptakan generasi generasi mutiara untuk masa depan bangsa. Tetapi realitanya di Indonesia, perhatian terhadap pendidikan masih sangat minim, ironis memang. Jauh panggang dari api mungkin kata yang paling tepat untuk menceritakan kondisi pendidikan kita sekarang, bayangkan saja dunia pendidikan kita sekarang cendrung komersialiasi yang mengakibatkan biaya pendidikan semakin mahal. Seyogyanya pendidikan dapat melahirkan manusia menjadi manusia seutuhnya bukan melahirkan “manusia robot”. Penulis bukanlah ahli pendidikan, tetapi orang – orang yang memang perhatian dan memiliki kompetensi dalam dunia pendidikan pasti menyadari bahwa dunia pendidikan kita sekarang mengalami “sakit”. Berbagai macam masalah pendidikan dari mahalnya biaya pendidikan, minimnya kualitas sarana dan prasarana, minumnya kualitas guru, dan banyak lagi segudang masalah yang menumpuk akan terus merongrong dunia pendidikan kita. Krisis yang terjadi dalam dunia pendidikan tentu berpengaruh terhadap cara pandang atau paradigma masyarakat menyikapi suatu kondisi seperti halnya praktek praktek money politik, apakah menerima atau menolak ?.
Jika masalah kemiskinan dan pendidikan tidak terselesaikan dengan cara cara yang elegant dan visioner maka pilihan politik seperti money politik tentu dianggap sebagaian masyarakat kita adalah pilihan yang rasional. Pernyataan seperti kapan lagi kita bisa menjadi perhatian pemerintah kalau bukan waktu pemilu, atau kapan lagi kita diberi kalau bukan waktu pemilu. Karena dianggap kepedulian dan empati pemerintah terhadap rakyatnya hanya pada waktu menjelang pemilu. Maka tidak heran akan banyak datang pahlawan pahlawan kesiangan dan wajah wajah penolong. Tentu ini harus menjadi perhatian bagi pemerintah jika ingin money politik tidak mau dianggap sebagai pilihan yang rasional maka pemerintah harus serius dan jangan ada pembiaran yang terstruktur terhadap kemiskinan dan pendidikan.
No comments:
Post a Comment