Saturday, 11 July 2015

“SULITNYA MENCARI MADE IN INDONESIA”



Sulit rasanya kita melihat dan menemukan produk-produk yang beredar dipasar adalah buatan asli Indonesia atau yang tertera pada label “Made in Indonesia”. Bahkan produk yang sehari-hari kita gunakan seperti Hand Phone, Laptop, kendaraan, pena, pensil dan lain – lain adalah buatan negara asing seperti Jerman, China dan Jepang.  bahkan yang sangat miris adalah beras yang menjadi kebutuhan pokok kita sehari-hari pemerintah masih “menumpang” dari negara tetangga.  Apakah kita sebagai anak bangsa tidak mampu berkarya dan melahirkan ide-de serta produk yang mampu bersaing dengan bangsa lain. Atau memang kita sebagai anak bangsa miskin akan gagasan dan karya sehingga terus bergantung dan tergerus dengan negara lain ?. 

Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai karya anak bangsanya sendiri, yang bisa menghargai keringat dan ide-ide kreatif rakyatnya bukan justru dengan dalih persaingan, perdagangan bebas, tuntutan pihak luar sehingga mengakibatkan matinya karya anak bangsa. Menghargai dan mengapresiasi sebuah karya tidak begitu saja datang butuh proses dan sistem yang kuat untuk mendukung karya anak-anak bangsa.

Kalau mau jujur kita bangsa Indonesia memiliki Sumber Daya Alam yang luar biasa, seperti pertambangan, perkebunan, bahkan hasil laut yang melimpah ruah. Dengan Sumber Daya Alam yang kita miliki hampir dipastikan semua produk bisa kita buat, dengan catatan kita memiliki Sumber Daya Manusia yang mumpuni. PR besar bangsa Indonesia hari ini adalah bagaimana meningkatkan SDM yang unggul dan kompetitif dalam peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bicara Sumber Daya Manusia maka proses Pendidikan merupakan tonggak yang sangat fundamental untuk menciptakan SDM yang berkualitas. Pendidikan kita sekarang masih diselimuti banyak masalah, dari minimnya sarana prasarana, minimnya jumlah guru baik kualitas maupun kuantitas, tidak adanya pemerataan pendidikan dan masih banyak masalah yang harus segera diselesaikan jika tidak ingin kita sebagai bangsa yang besar ini hanya menjadi “budak” dalam negaranya sendiri.  

Jika diperhatikan masalah pendidikan yang paling mendasar adalah pendidikan kita masih menghargai angka-angka atau nilai dari pada sebuah karya nyata. Sistem pendidikan bangsa indonesia hari ini dari pendidikan dasar sampai dengan perguruan tinggi masih berorientasi pada nilai yang berbentuk angka. Dan merupakan syarat kelulusan seseorang dalam menempuh pendidikan secara formal yaitu berbentuk ijazah. Anak-anak bangsa tidak lagi distimulus dan didorong untuk membuat dan memiliki sebuah karya nyata tetapi lebih didorong untuk menghapal dan mempelajari yang bersifat teoritis sehingga pada akhirnya anak negeri ini hanya mampu melahirkan nilai dengan angka 6,7,8,9 bahkan ada yang mendapatkan nilai tertinggi 10. Justru hal tersebut menjadi kebanggan yang tidak dapat dibanggakan. Yang terjadi dalam sistem pendidikan kita adalah ketidakmampuan untuk mendorong anak-anak bangsa menciptakan sebuah produk/ karya “made in Indonesia”. Jangan kan bersaing dalam dunia otomotif dan teknologi lain, pensil dan kertas saja kita masih bergantung dengan negara lain, Ironis memang. 

Pemerintah memiliki tanggung jawab yang besar dan penting dalam membenahi sistem pendidikan kita, dalam rangka mewujudkan pendidikan yang berkualitas serta mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Khususnya bersaing dalam dunia bisnis yang notabene dikuasai oleh bangsa-bangsa eropa dan beberapa negara asia seperti Jepang dan China. Untuk itu dunia pendidikan kita perlu pembenahan yang bersifat revolusioner sehingga anak-anak tidak lagi didorong pada orientasi nilai tetapi lebih dari itu yaitu nilai yang “nyata”. Sehingga sistem pendikan kita mampu melahirkan generasi yang mampu menciptakan karya sendiri “made in Indonesia”.

No comments:

Post a Comment