Thursday, 10 September 2015

PARADIGMA PEMERATAAN EKONOMI (KEMANDIRIAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA)

Dalam rangka meningkatkan kompetensi, kesejahteraan  dan rasa tanggung jawab sebuah negara terhadap rakyatnya maka dibutuhkan pembangunan, baik pembangunan Sumber Daya Manusia maupun pembangunan dalam aspek fisik atau infrastruktur untuk mendukung tujuan sebuah negara. Salah satu tujuan pembangunan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan dasar (basic needs) seperti sandang, papan, pangan, pendidikan, olahraga, rekreasi, dan kesehatan. Tentu dalam konteks pembangunan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi lebih dari yaitu kemandirian untuk tegak dan berdiri dikaki sendiri sebagai sebuah bangsa yang berdaulat dalam proses pembangunan. 
 
Indonesia yang merupakan negara berkembang tentu memiliki tantangan tersendiri dalam membangun kemandirian dengan berbagai macam persoalan yang menghimpit sampai dengan sekarang, seperti sumber dana APBN yang masih terbatas sehingga membuat indonesia masih terkutat dalam lingkaran hutang dunia.  Sebut Saja hutang pada akhir Mei 2015 mencapai US$ 302,3 Miliar, dengan hutang tersebut Indonesia untuk menjadi sebuah negara yang mandiri dalam proses pembangunan sangat sulit terwujud. Idealnya indonesia harus segera memikirkan bagaimana keluar dari jeratan hutang yang tak berhenti bahkan sejak indonesia dinyatakan sebagai sebuah negara yang merdeka. Walau demikian tentu banyak pro dan kontra tentang hutang, bahkan Presiden Jokowi tetap mendukung untuk berhutang dengan asumsi pendistribusiannya pada lahan-lahan yang produktif seperti menghidupkan usaha kecil menengah dan kembali mengalakkan koperasi ditengah-tengah masyarakat indonesia. Tapi nyatanya dengan hutang indonesia akan sulit membangun secara mandiri tanpa ada campur tangan dan kepentingan politik luar negeri. Sebut saja China sekarang menjadi kiblat dalam bidang ekonomi dan bisnis, jika diperhatikan begitu mudah produk-produk dari negeri bambu masuk  bak ombak yang tak tertahankan. Sementara produk lokal kalah bersaing yang mengakibatkan lemahnya pertumbuhan ekonomi khususnya usaha kecil menengah. Belum lagi masuknya tenaga kerja asing terkhusus china secara masif sementara di dalam negeri anak-anak bangsa masih banyak yang menjadi penganguran. Bukan berarti anak bangsa tidak dapat berkompetensi dengan pihak luar tetapi kesempatan selalu dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan politik baik dalam maupun luar negeri.
 
Persoalan seperti hutang luar negeri, pengangguran, masuknya tenaga kerja asing secara masif, akan menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi indonesia dalam pembangunan itu sendiri. Jika persoalan-persoalan seperti tersebut diatas belum terselesaikan dengan baik, maka sulitnya rasanya bagi kita untuk berbicara mengenai kemandirian dan pemerataan ekonomi. Ketimpangan ekonomi seakan menjadi persoalan klasik yang tak pernah tuntas, lihat saja bagaimana pertumbuhan ekonomi di pulau jawa, bandingkan dengan pertumbuhan ekonomi diluar pulau jawa. Sungguh sangat berbeda akses yang didapatkan sehingga mengakibatkan terjadinya kesenjangan terhadap akses seperti pendidikan, kesehatan, pertanian, ekonomi dan lain-lain. 
 
Kemandirian pembangunan sangat penting dilakukan dalam rangka memicu pertumbuhan ekonomi untuk mewujudkan pemerataan ekonomi dengan program jangka panjang (evolusi). Seperti menumbuhkembangkan usaha mikro atau usaha kecil menengah (UKM) dengan cara (1) memberikan insentif dan reward kepada usaha pemula untuk memulai dan membangun usaha. (2) Peran pemerintah melalui kebijakan yang berpihak kepada UKM untuk mendapatkan informasi, akses yang efektif sehingga usaha yang dijalankan dapat berjalan dengan optimal. (3) Menciptkan situasi yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi dibidang usaha kecil menengah (4) satu hal yang terpenting adalah peran dan partisipasi masyarakat untuk ikut serta untuk menunjang pertumbuahan usaha kecil menengah, seperti mencintai dan membeli produk dalam negeri dan tidak mudah terpengaruh terhadap barang-barang import yang masuk. Jika pertumbuhan ekonomi dalam negeri dapat digerakkan melalui usaha kecil menengah maka menciptakan iklim bisnis yang menguntungkan bagi bangsa Indonesia.
 
Selain menumbuhkan kembangkan usaha kecil menengah, yang sering dilupakan pemerintah adalah penguatan dibidang sektor pertanian. Seperti kita ketahui negara Indonesia disebut juga sebagai negara nusantara atau negara kepulauan yang terdiri dari 17.508 pulau dan negara kepulauan terbesar di dunia. Dan potensi atau kekuatan yang kita miliki dengan pulau sebanyak itu tentu faktor iklim basah maka pertanian adalah jawabannya, bahkan nenek moyang kita dahulu telah memberi pelajaran buat bangsa ini kenapa pentingnya pertanian. Bagaimana tidak ? tahukah kita kenapa bangsa-bangsa eropa sebut saja Belanda, Inggris bahkan bangsa asia seperti Jepang datang dan menjajah adalalah karena tergoda dengan sumber daya alam yang luar biasa seperti pala, jahe, dan bahan rempah-rempah. Maka sudah saatnya pemerintah harus serius memperhatikan pertanian di pedesaan melalui petani-petani, bukan menyerahkan dengan kekuatan modal asing untuk masuk dan mengelola pertanian kita dengan cara menjajah secara struktural. Pembangunan pertanian di Indonesia harus segera ditangani dengan serius jika tidak maka negara ini akan mengalami kegagalan ekonomi secara total. Mengingat tantangan saat ini begitu besar baik tantangan dalam negeri lebih-lebih faktor kepentingan/ campur tangan pihak asing. Untuk itu diperlukan langkah-langka nyata seperti (1). membangun dan penyediaan bahan pertanian dalam rangka terwujudnya indusrialisasi pertanian di tingkat desa. (2). Diperlukan program jangka panjang untuk optimalisasi hasil pertanian untuk meningkatkan ketahanan pangan. (3). Menghidupkan kembali koperasi sebagai basis ekonomi kerakyatan yang sesudah mengakar menjadi budaya ditengah-tengah masyarakat. 
 
Dengan terwujudnya kemandirian dibidang ekonomi dan pertanian dalam proses pembangunan di Indonesia. Maka cita-cita besar bangsa ini untuk mandiri dalam menentukan budget dan kebijakan akan mempercepat dan mampu menstimulus pertumbuhan ekonomi yang revolusioner. Pemerataan ekonomi tidak lagi menjadi sebuah isu apalagi opini tetapi ia menjadi fakta bagi selurah rakyat indonesia, dari sambang sampai merauke akan merasakan dan berdampak positif bagi pertumbuhan pembangunan lainnya.



No comments:

Post a Comment